Mantri Cilik hingga Dokter Jawa Tingkatan Pendidikan Medis yang Memecah Belah Kelas
Pada masa Hindia Belanda, sistem pendidikan medis tidak hanya bertujuan melahirkan tenaga kesehatan, tetapi juga berfungsi sebagai cerminan dan penegas Kelas Sosial yang berlaku. Terdapat berbagai tingkatan pendidikan yang menghasilkan hierarki jelas. Mulai dari Mantri Cilik di tingkat paling bawah hingga lulusan sekolah kedokteran Eropa, setiap level pendidikan menentukan status sosial, wewenang, dan gaji seseorang.
Tingkatan paling dasar adalah Mantri Cilik atau juru rawat, yang umumnya hanya menerima pelatihan praktis singkat. Mereka bertugas membantu dokter Eropa atau pribumi di poliklinik atau rumah sakit kecil. Di atasnya ada yang lulus dari sekolah setingkat MULO. Tingkat pendidikan yang minim ini memastikan bahwa mereka tetap berada di strata yang rendah, melayani kebutuhan dasar masyarakat tanpa mengancam dominasi dokter Belanda.
Puncak pendidikan medis bagi kaum pribumi adalah melalui sekolah seperti STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia. Lulusannya disebut Dokter Jawa (Inlandsche Arts). Meskipun memiliki gelar dokter, status mereka secara sosial dan hukum tetap berada di bawah dokter Eropa (Europeesche Artsen). Gaji dan wewenang mereka dibatasi, menciptakan pemisahan Kelas Sosial yang terstruktur bahkan dalam profesi yang sama.
Perbedaan tingkatan ini secara efektif memecah belah masyarakat kolonial. Lulusan Eropa menempati posisi tertinggi, memimpin rumah sakit besar dan melayani kalangan elit. Sementara itu, Dokter Jawa dan para mantri lebih banyak ditempatkan di daerah terpencil untuk melayani penduduk pribumi. Kebijakan ini memastikan bahwa Kelas Sosial berbasis ras dan pendidikan tetap dipertahankan demi menjaga stabilitas struktur kekuasaan kolonial.
Meski demikian, Dokter Jawa yang lahir dari sekolah pribumi ini memainkan peran krusial dalam sejarah pergerakan nasional. Mereka menjadi golongan terpelajar yang sadar akan ketidakadilan Kelas Sosial. Pendidikan yang mereka dapatkan, meskipun terbatas, menjadi modal untuk memimpin perjuangan politik dan kesehatan masyarakat. Warisan mereka adalah bukti bahwa pendidikan, apapun tingkatannya, mampu menumbuhkan kesadaran.
